Chopstick
Chopstick
Back to
Homepage
Apel Merah
Storytelling Post Image

Kitty adalah anak gadis yang miskin. Ayahnya sudah lama meninggal. Kini, dia tinggal berdua dengan ibunya yang sakit-sakitan. Ketika berangkat sekolah, Kitty berjalan melewati toko buah. Di sana, dia melihat setumpuk apel merah.

"Oh, segarnya apel-apel itu! Seandainya aku bisa membelinya untuk ibu, pasti ibu akan sangat senang," pikir Kitty sedih.

Kitty berharap memiliki uang agar bisa membeli apel itu. Ketika pulang sekolah, Kitty menemukan sebuah dompet di jalan. Dompet itu berisi banyak uang, tapi, dia mengurungkan niatnya.

"Itu namanya mencuri. Ibu pasti sangat sedih kalau tahu anaknya mencuri," kata Kitty.

Kitty lalu melihat ke sekelilingnya. Tidak jauh darinya, ada seorang bapak sedang berjalan kaki. Kitty pun berlari menghampiri bapak itu.

"Permisi, Bapak menjatuhkan dompet ini di jalan," kata Kitty.

Bapak itu sangat berterima kasih pada Kitty. Ketika Kitty hendak pergi, bapak itu
memanggilnya.

"Tunggu, Nak. Ambillah ini sebagai hadiah. Aku senang ada anak jujur sepertimu," katanya sambil menyerahkan uang pada Kitty.

Kitty pun sangat senang. Setelah mengucapkan terima kasih, Kitty pergi ke toko buah. Di sana, dia sibuk memilih apel yang paling besar. Penjaga toko itu merasa kasihan melihat Kitty yang lusuh.

"Kau ingin apel ini, Nak? Ambillah, kau tidak usah membayarnya," kata penjaga toko.
"Wah, benarkah? Terima kasih banyak," kata Kitty senang.

Kitty lalu bergegas pulang. Sesampainya di rumah, dia memberikan apel dan uang itu pada
ibunya. Kitty pun menceritakan apa yang terjadi. Ibunya memeluk Kitty dengan bangga sambil berkata,

"Kau lihat kan, Nak? Kejujuran selalu berbuah manis. Seperti apel ini."

Latest Storytelling
Latest Storytelling Photo Post
Apel Merah

Kitty adalah anak gadis yang miskin. Ayahnya sudah lama meninggal. Kini, dia tinggal berdua dengan ibunya yang sakit-sakitan. Ketika berangkat sekolah, Kitty berjalan melewati toko buah. Di sana, dia melihat setumpuk apel merah.

"Oh, segarnya apel-apel itu! Seandainya aku bisa membelinya untuk ibu, pasti ibu akan sangat senang," pikir Kitty sedih.

Kitty berharap memiliki uang agar bisa membeli apel itu. Ketika pulang sekolah, Kitty menemukan sebuah dompet di jalan. Dompet itu berisi banyak uang, tapi, dia mengurungkan niatnya.

"Itu namanya mencuri. Ibu pasti sangat sedih kalau tahu anaknya mencuri," kata Kitty.

Kitty lalu melihat ke sekelilingnya. Tidak jauh darinya, ada seorang bapak sedang berjalan kaki. Kitty pun berlari menghampiri bapak itu.

"Permisi, Bapak menjatuhkan dompet ini di jalan," kata Kitty.

Bapak itu sangat berterima kasih pada Kitty. Ketika Kitty hendak pergi, bapak itu
memanggilnya.

"Tunggu, Nak. Ambillah ini sebagai hadiah. Aku senang ada anak jujur sepertimu," katanya sambil menyerahkan uang pada Kitty.

Kitty pun sangat senang. Setelah mengucapkan terima kasih, Kitty pergi ke toko buah. Di sana, dia sibuk memilih apel yang paling besar. Penjaga toko itu merasa kasihan melihat Kitty yang lusuh.

"Kau ingin apel ini, Nak? Ambillah, kau tidak usah membayarnya," kata penjaga toko.
"Wah, benarkah? Terima kasih banyak," kata Kitty senang.

Kitty lalu bergegas pulang. Sesampainya di rumah, dia memberikan apel dan uang itu pada
ibunya. Kitty pun menceritakan apa yang terjadi. Ibunya memeluk Kitty dengan bangga sambil berkata,

"Kau lihat kan, Nak? Kejujuran selalu berbuah manis. Seperti apel ini."

Latest Storytelling Photo Post
Badu Si Anak Rajin

Di suatu desa, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Badu yang hanya tinggal
bersama ibunya. Pagi itu Badu sedang menggembalakan kambing-kambingnya di
padang rumput yang luas. Sembari menunggu kambingnya makan, Badu
memnfaatkan waktunya untuk membaca buku di bawah pohon rindang.
Kemudian datanglah seorang kakek tua menghampirinya. Kakek tersebut
bertanya padanya “Nak, bolehkan kakek menumpang sebentar duduk di pohon
ini?” Tentu Badu mempersilahkan kakek tersebut untuk duduk, juga menawarkan
minum yang ia bawa.

Badu terlihat asyik membaca buku tersebut hingga tidak menyadari jika kakek
tadi memperhatikannya. “Kamu tidak sekolah, nak?” tanya si kakek lagi. Dengan
raut sedikit sedih ia menjawab kalau dia tidak mempunyai uang untuk sekolah.
Buku yang ia baca pun hanya pinjaman temannya.

Badu juga bercerita kepada kakek kalau ia ingin sukses suatu hari nanti sehingga
bisa membahagiakan ibunya. Melihatnya yang tetap semangat belajar dan tidak
menyerah pada keadaan membuat kakek tersebut terharu. Lalu kakek itu pun berkata,“Tetaplah giat belajar ya, nak. Ketekunanmu akan membuahkan hasil dan
kamu pasti akan menjadi orang yang sukses.”

Keesokan harinya ketika Badu ingin pergi merumput, ibunya berteriak kepadanya
dan mengatakan bahwa ia diterima di sebuah sekolah untuk belajar. Lalu mereka
bergegas pergi ke sekolah yang dimaksud. Alangkah terkejutnya Badu ketika
mengetahui bahwa kepala sekolah tersebut adalah kakek yang ditemuinya
kemarin.

Latest Storytelling Photo Post
Anak Kambing dan Serigala

Dikisahkan ada sebuah keluarga kambing yang hidup di hutan. Pada suatu ketika, ibu kambing akan pergi ke suatu tempat dan berpesan kepada anaknya untuk tidak membuka pintu untuk orang lain.

Ibu kambing mengajari anaknya sebuah lagu agar si anak tidak salah mengenali. Jika ibu yang datang maka didepan pintu akan ada yang menyanyikan lagu tersebut. Tanpa mereka sangka, ada seekor serigala yang ikut mendengarkannya.

Sesaat setelah ibu kambing pergi, datanglah seekor serigala yang lapar itu. Ia berdiri di depan pintu kemudian menyanyikan lagu yang ibu kambing tadi ajarkan. Anak kambing merasa aneh dengan kejadian ini. Ia pun membatin bahwa tidak mungkin ibunya yang baru saja pergi tapi tiba-tiba kembali. Suara yang ia dengarkan pun berbeda dari suara ibunya.Ia merasa bimbang mau membukakan pintu atau tidak. Di tengah kebimbangannya, anak kambing memutuskan untuk mengintip lewat celah kecil di bawah pintu. Betapa terkejutnya ia ketika tahu bahwa yang ia lihat bukan sepasang kaki ibunya, melainkan kaki serigala.

Karena ketakutan, kambing kecil itu pun berteriak. Teriakannya itu membuat hewan-hewan lain berdatangan. Hal ini tentu saja membuat serigala gentar dan memutuskan untuk pergi dan tidak jadi memangsa anak kambing.